f

Ketum IAEI : Inovasi Produk Sebuah Keharusan

Jumat, 17 Februari 2012



Prospek pengembangan ekonomi syariah di Indonesia kedepan sangat maju dengan pesat, hal ini akan mendorong pelaku investor untuk menanamkan modal usaha di keuangan syariah. Namun demikian Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Bambang S Brodjonegoro berharap agar lembaga keuangan syariah melakukan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan.

Saat menyampaikan keynote speaker diacara seminar internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Bambang berujar, strategi kedepan dalam mengembangkan keuangan syariah adalah memperbanyak lembaga keuangan syariah dan inovasi produk syariah. Alasanya, investasi akan tertarik dalam mengembangkan keuangan syariah jika ada produk keuangan syariah yang beragam dan menarik.

"Ini yang menjadikan fokus kami dalam mengembangkan sistem ekonomi syariah di Indonesia,"paparnya.

Jika ini terjadi, lanjut Bambang akan mempengaruhi investasi dan pertumbuhan keuangan syariah. Selama ini tak demikian pengembangan keuangan syariah berdasarkan institusi saja sehingga tidak inovatif.

"Kedepan perlu sebuah inovasi-inovasi serta strategi-strategi yang lebih bagus lagi." tuturnya.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

Pemberlakukan Kurikulum Ekonomi Syariah Perlu Ketegasan Pemerintah



Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia yang diiringi dengan majunya industri keuangan syariah teryata tak diimbangi dengan pengembangan kurikulum ekonomi syariah. Terbukti hingga saat ini belum jelas sikap pemerintah dalam pemberlakuan kurikulum ekonomi syariah disegala lini pendidikan. Hal ini yang mendorong pengembangan ekonomi syariah mengalami jalan di tempat.

Demikian pernyataan salah satu ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Agustianto, dalam acara seminar internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ)


Menurut Agustianto, pengembangan ekonomi syariah akan mengalami stagnan jika tak diimbangi dengan jumlah SDM yang memadai. Maka dari itu pemberlakuan kurikulum ekonomi syariah tak bisa ditunda lagi.

Lantas bagaimana pengembangan kurikulum ekonomi syariah selama ini?

Agustianto menambahkan bahwa dalam mengembangkan kurikulum ekonomi syariah pemerintah masih bersifat gamang. Apakah diserahkan otoritasnya kepada kementerian agama atau kementerian pendidikan.

"Dengan demikian seakan akan dalam mengembangkan kurikulum ekonomi syariah seperti lempar melempar bola," ujarnya.





KEMBALI KE MENU





Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

Ketum Asbisindo Lantik DPW Solo Raya



Solo (17/9) Untuk meningkatkan pertumbuhan perbankan syariah di Jawa Tengah, Asosiasi Bank Syariah Se-Indonesia (ASBISINDO) pada hari Sabtu (17/9/2011) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melantik Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ASBISINDO Solo Raya.

Pelantikan tersebut juga diselingi dengan seminar nasional ekonomi syariah dengan tema "peran perbankan syariah dalam melakukan akselarasi pertumbuhan sektor riil" yang diselenggarakan oleh MES Solo.

Ketua Umum ASBISINDO, A Riawan dalam acara pelantikan mengatakan dengan adanya pelantikan DPW ASBISINDO Solo Raya akan memperkuat peran perbankan syariah di Indonesia. Maka dari itu ia berharap kepada seluruh jajaran pengurus untuk kompak dalam mengembangkan perbankan syariah.

Riawan juga menekankan bahwa menjadi bankir syariah bukan hanya mengembangkan sistem perbankan saja tapi berjuang bagaimana mengajak masyarakat dalam menanggalkan prinsip sistem keuangan ribawi.

"Maka mereka bukan sekedar bangkir tapi mujahid ekonomi syariah," ujarnya.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

Assabiqunal Awwalun Hadiri Halal Bihalal Asbisindo



Jakarta, (16/9/2011). Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) kemarin malam (kamis, 15/9/2011) sempat menyedot perhatian sendiri, pasalnya dalam acara para bankir syariah tersebut juga dihadiri oleh Assabiqunal Awwalun (para pendiri) perbankan syariah. Mereka adalah Subarjo Joyosumarto (Ketua Umum PKES), Karnaen.P (pendiri Bank Muamalat) dan lain-lain. Selain itu acara tersebut juga dihadiri Direktur Direktorat Perbankan Syariah, Mulya E Siregar dan salah satu perwakilan dari Islamic Development Bank (IDB), Muhammad Sidik.


Ketua Asosiasi Bank Syariah Se-Indonesia (Asbisindo) Ahmad Riawan Amin dalam kesempatan itu sangat bahagia, dan ia menyampaikan bahwa ukhuwah antar para Mujahid ekonomi syariah perlu digalakkan terus menerus. Halal-bihalal yang ada diselenggarakan saat itu meupakan perwujudan dalam menjalin silaturrahmi tersebut.

Ia juga menegaskan dalam ukhuwah para mujahid ekonomi syariah khususnya perbankan syariah bukan hanya berorientasi pada mensyariahkan bank syariah tapi mensyariahkan perbankan nasional agar menanggalkan prinsip maisir, ghorar dan riba.

“Dengan demikian tujuan dibentuknya perbankan syariah untuk menuju perubahan yang lebih baik dalam kesejahteraan,”tuturnya.

Sementara dalam kesempatan yang sama, Mulya E Siregar, menegaskan kekompakkan perbankan syariah perlu terus diperkuat apalagi saat ini market share perbankan syariah masih kecil. Forum-forum seperti ini perlu diaktifkan.


Ia juga menyampaikan, saat ini aset bank syariah mencapai 116 triliun sedangkan BPRS 3,7 triliun, ia berharap di akhir tahun 2011 akan melebihi target Rp 138 triliun yang selama ini ditargetkan oleh pemerintah.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

Aktivis Ekonomi Syariah Kaji Ketahanan Mata Uang



Setelah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEKM) PP Muhammadiyah yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tanggal 14-16 Mei 2011 melahirkan rekomendasi tentang pemberlakuan mata uang emas sebagai alat transaksi keuangan. Kini para aktifis ekonomi syariah yang tergabung dalam pegiat ekonomi syariah akan menindak lanjutinya dalam bentuk kajian ketahanan uang.

Taufan Maulamin, selaku koordinator pegiat ekonomi syariah menuturkan, rekomendasi MEKM PP Muhammadiyah sangat bagus sekali untuk mendorong penggunaan mata uang emas yang selama ini diberlakukan pada zaman Rasuluallah dan para sahabatnya. Selain itu emas sangat terbukti mampu menekan lajunya tingkat inflasi. ”Itulah dalam acara silaturahmi ekonomi syariah di akhir bulan Mei ini akan mengangkat tentang ketahan mata uang,”ujarnya.

Ketahan mata uang, tutur Taufan---sangat penting, apalagi saat ini Indonesia sangat rentan terhadap laju inflasi. Sementara pemerintah untuk menahan tingginya tingkat laju inflasi tersebut memendungya dengan anggaran devisa yang ada selama ini.Pertanyaanya, sejauhmana ketahan devisa tersebut dalam menahan laju inflasi?

Sementara, ekonomi syariah memberikan alternatif terhadap tingginya laju inflasi tersebut diantaranya adalah mendorong tingkat produktifitas sektor riil yang ada di masyarakat serta menggunaka emas sebagai alat transaksi keuangan. ”Itulah yang menjadi strategis ekonomi syariah dalam mengembangkan ketahanan keuangan,” ujarnya.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

MES Solo Sosialisasikan Program Kerja



Solo (23/2/2009) Untuk menjalin komunikasi antara anggota MES Solo, kemarin Kamis (19/2) malam di Hotel Indah Place diadakan konsolidasi dan sekaligus sosialisasi program kerja. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan dan kerja sama untuk meningkatkan perkembangan ekonomi syariah di Solo.

Dalam kesempatan tersebut Prof Bambang Setiadji ketua MES Solo memaparkan pentingnya hubungan yang lebih harmonis antara aggota yang terdiri dari pengusaha, bankir,ulama , tokoh masyarakat serta mahasiswa.

”Jika semua elemen tersebut dapat bersatu tentu akan lebih mudah lagi untuk menggerakkan ekonomi syariah,” ujar Bambang. Sebab menurutnya karena peran dari masing-masing elemen sangat penting untuk saling mendukung antara satu dengan yang lain.

Untuk mencapai tujuan tersebut menurutnya harus ada langkah konkrit yang harus dilakukan, meskipun dengan program kerja yang tidak terlalu formal.

”Silaturahmi salah satunya merupakan upaya yang harus dibangun antara pengusaha muslim dan perbankan misalnya. Dan tidak kalah penting adalah para ulama karena mereka itu merupakan soko guru tegaknya ekonomi syariah,”  tandasnya.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

MEKM Berorientasi Dalam Mengembangkan UMKM



Banyaknya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tubuh organisasi Muhammadiyah tidak di sia-siakan oleh Mejelis Ekonomi dan Kewirausahaan Muhammadiyah (MEKM) dalam komitmennya mengembangkan ekonomi umat. Terkait dengan itu, MEKM berkerja keras untuk mendorong warga Muhammadiyah mengembangkan bisnis UMKM.

“Saya rasa dengan arah kebijakan ini akan memudahkan kami dalam mengembangkan ekonomi umat,”kata Ketua Umum MEKM, Anwar Abbas saat berbicara dengan pkesinteraktif.com.

Untuk memobilisasi program tersebut, Anwar Abbas berencana untuk selalu berhubungan dengan perbankan syariah. Apalagi saat ini MEKM telah ada komitmen dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) dalam mengembangkan pembiayaan UMKM.

”Meskipun demikian, kami juga tidak tertutup kemungkinan berkerjasama dengan pihak perbankan syariah lainya diluar Asbisindo yang memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembankan ekonomi umat,”kata Anwar Abbas.

Hingga kini, kata Anwar Abbas sudah banyak bank-bank syariah yang bekerjasama dengan Muhammadiyah seperti Bank Muamalat Indonesia, BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Niaga Syariah dan Bukopin Syariah.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

BI : Sektor Mikro Makin Diminati Perbankan

Kamis, 16 Februari 2012



Segmen mikro semakin dirlik oleh perbankan di tanah air. Terbukti saat ini banyak bank yang mendirikan unit mikro. Terlebih sektor tersebut juga menjadi perhatian pemerintah yang direalisasikan dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Direktur Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI), Edy Setiadi mengatakan perbankan kini mulai berlomba-lomba untuk bisa masuk ke sektor mikro. Bagi bank yang tidak memiliki kapasitas untuk masuk ke sektor tersebut, bank biasa menggunakan linked program.

“Dengan linked program, hampir 1500 BPR di manfaatkan oleh bank untuk bisa masuk ke sektor mikro. Dan saat ini sudah mencapai 8 triliun jumlah kredit yang disalurkan melalui linked program,” ujarnya.

Untuk perbankan syariah, Edy menilai hadirnya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), induk koperasi syariah dan Baitulmaal Waa Tanwil (BMT)sangat membantu perbankan syariah untuk bisa menjangkau sektor mikro.

“Adanya BMT-BMT dan Inkopsyah itu sangat bagus. Karena menjadi chanel-chanel bagi perbankan syariah untuk meyalurkan dananya ke sektor mikro,” tandasnya.





KEMBALI KE MENU




Kritik dan saran | Email : foreksunisma@gmail.com

 
Forum Ekonomi Syariah © 2012 | Designed by Bubble Shooter, in collaboration with Reseller Hosting , Forum Jual Beli and Business Solutions